Connect with us

Hukrim

Erik Aliknoe, Pende Mirin dan Yunus Aliknoe Dituntut Hukuman 10 Bulan Penjara

Published

on

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Manokwari, Benony A.Kombado, menuntut terdakwa tiga mahasiswa, Erik Aliknoe, Pende Mirin dan Yunus Aliknoe dengan tuntutan penjara 10 bulan penjara.

Pembacaan surat tuntutan tersebut dalam agenda sidang tuntutan yang digelar di Pengadilan Negeri Manokwari mengikuti protokol pencegahan Covid-19, Jumat (22/5/2020).

Dari empat Pasal Pidana KUHP yang didakwakan oleh JPU, para terdakwa hanya dituntut dengan satu pasal Pidana yaitu Pasal 160 KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke 1 huruf (e) KUHP, tentang penghasutan.

Selanjutnya, dalam dakwaanya, Kombado juga memerintahkan agar para terdakwa tetap ditahan, serta menetapkan 12 barang bukti yang menguatkan fakta-fakta penuntutan hukuman.

Sementara, Yan Christian Warinussy, SH, selaku koordinator tim kuasa hukum terdakwa menyatakan tuntutan Pasal Pidana 160 KUHP terhadap tiga kliennya sangat tepat, karena tiga kliennya bukan berperan sebagai inisiator dalam aksi unjuk rasa pada 3 September 2019 yang mendasari perkara tersebut hingga di persidangan.

“Tuntutan pasal 160 KUHP Jo Pasal 55 (Ayat 1) ke 1 huruf (e), sesuai dengan fakta-fakta persidangan yang menguatkan peran ketiga terdakwa,” ujar Warinussy.

Namun, untuk pembelaan terhadap kliennya, lanjut Warinussy, pihaknya akan mengajukan pembelaan dengan permohonan pengurangan pidana penjara 10 bulan yang dituntut JPU, mengingat ke tiga kliennya masih berstatus sebagai mahasiswa aktif yang berhak mendapatkan pendidikan dan menggapai masa depan masing-masing.

“Tentu kami akan lakukan pembelaan dalam sidang lanjutan. Kami mohon ada keringanan hukuman dari Hakim, agar tiga klien kami bisa kembali beraktifitas seperti biasa. Mengingat masa penahanan sementara yang dijalani sudah delapan bulan lebih,” ujar Warinussy.

Sementara, ketua majelis Hakim Pengadilan Negeri Manokwar, Sony A.B Loemoery, menunda sidang tersebut untuk dilanjutkan pada tanggal 28 Mei 2020 dengan agenda pembelaan dari kuasa hukum tiga terdakwa.

Untuk diketahui, ketiga terdakwa Erik Aliknoe, Pende Mirin dan Yunus  Alinoe ditangkap dalam waktu berbeda pada bulan September 2019 oleh tim khusus Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Papua Barat, pasca aksi unjuk rasa tolak rasisme di jalan Gunung Salju Kelurahan Amban, Manokwari.

Dalam dakwaan Jaksa di awal persidangan, tiga terdakwa didakwa dengan empat pasal KUHP diantaranya, Pasal 106 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke 1e KUHP, Pasal 110 ayat (1) KUHP, Pasal 160 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1e dan atau Pasal 212 KUHP jo Pasal 213 ke 1e jo Pasal 55 ayat (1) ke 1e KUHP.(akp)

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adat

Bupati Hermus Keluarkan SE Terkait Virus ASF Yang Diduga Penyebab Kematian Ternak Babi

Published

on

Bupati Manokwari, Hermus Indou SIP,.MH.

MANOKWARI,JAGATPAPUA.com– Bupati Manokwari, Hermus Indou, SIP, MH telah mengeluarkan surat edaran meminta semua pihak untuk waspada terhadap virus demam babi Afrika.

Surat edaran bupati Kabupaten Manokwari nomor : 524.3/324. Tentang peningkatan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit pada ternak babi di Kabupaten itu ditandatangani bupati Manokwari per Rkamis 22 April 2021.

Sehubungan dengan peningkatan kasus penyakit dan kematian ternak babi di wilayah kabupaten Manokwari pada khususnya serta hasil investigasi Balai Besar Veteriner Kabupaten Maros terhadap kematian ternak babi di wilayah kabupaten Manokwari , dengan diagnosa sementara bahwa kematian ternak babi yang terjadi disebabkan oleh virus Afrika Africa twin dengan ini disampaikan informasi dan himbauan sebagai berikut,
1: Penyakit virus African swine fever atau demam babi Afrika adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang menyebabkan kematian yang tinggi pada ternak babi dan masih belum ditemukan vaksin dan obat untuk penanggulangannya. Penularan penyakit ini adalah melalui kontak langsung, serangga, pakaian, peralatan, peternak, kendaraan, dan pakan yang terkontaminasi.

2: Khususnya peternak dan penjual produk daging babi diimbau untuk lebih meningkatkan kewaspadaan akan penyakit ASF dengan penerapan budaya dan biosecurity yang baik menempuh:
A: Menjaga kebersihan kandang ternak dengan pembersihan minimal dua kali sehari, disinfektasi kandang secara berkala, membatasi keluar masuk orang yang tidak berkepentingan pada lingkungan kandang.
B: Pemberian pakan pada ternak sesuai kuantitas dan kualitas.
C: Tidak membiarkan pakan sisa rumah tangga, restoran pelabuhan hotel pada ternak karena dapat merupakan media penularan penyakit.
D: Jika ada dugaan ASF atau ditemukan babi yang sakit atau mati diharapkan segera melapor kepada petugas Dinas Pertanian dan ketahanan Pangan Kabupaten Manokwari atau Penyuluh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat 1 X 24 jam. Segera dikubur dan Dilarang membuang ke sungai laut atau hutan untuk mencegah lebih luas penyakit abses. Tidak menjual ternak dan daging babi yang terindikasi sakit.
F: Pengusaha penjual ternak dan daging babi untuk sementara dilarang memasukkan ternak babi dari luar Kabupaten Manokwari karena kasus penyakit ternak babi telah terjadi pada kabupaten lain di wilayah Provinsi Papua Barat.

3. Dinas Pertanian dan ketahanan pangan kabupaten Manokwari agar segera melaksanakan langkah-langkah antisipatif dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit menular pada ternak babi menerima dan merekap laporan kejadian penyakit dan kematian ternak babi yang terjadi di wilayah kabupaten Manokwari.

4. Dinas lingkungan hidup dan pertahanan Pertanahan Kabupaten Manokwari agar tetap memperhatikan mengantisipasi dampak lingkungan terhadap wabah Penyakit ini.
5. kepala distrik dan kepala Kelurahan Kampung agar terus berpartisipasi dalam melaksanakan sosialisasi pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak babi dan wajib memberi penekanan kepada masyarakat agar tidak membuang bangkai ternak di sembarang tempat melainkan harus menguburkan ke dalam tanah demikian untuk dilaksanakan.(JP/AR)

Continue Reading

Adat

Ratusan Ternak Babi Di Manokwari, Mansel dan Pegaf Mati Diduga Terserang Virus ASF

Published

on

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua Barat, drh Hendrikus Fatem.

MANOKWARI,JAGATPAPUA.com – Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Papua Barat drh Hendrikus Fatem mengatakan, kematian ratusan ternak babi di tiga kabupaten di Provinsi Papua Barat dalam satu bulan berjalan masih diselidiki tim terpadu Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan setempat.

Dugaan sementara ratusan ternak babi di kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan dan Pegunungan Arfak itu mati terserang virus demam babi Afrika (African swine fever/ASF).

“Tim terpadu telah melakukan pengambilan sampel untuk dilakukan pemeriksaan atau diagnosis di Balai Besar Veteliner (BBVet) Maros Sulawesi Selatan,” kata Fatem.

Fatem mengatakan laporan masyarakat atas kematian ternak babi tertinggi di kabupaten Manokwari dalam dua pekan terakhir. Kasus yang sama juga terjadi di kabupaten Manokwari Selatan dan Pegunungan Arfak.

Dia mengatakan tim terpadu yang terdiri dari dinas peternakan dan kesehatan hewan Papua Barat bersama petugas BBVet Maros sedang melakukan investigasi untuk memastikan jenis virus tersebut.

“Pemerintah masih menunggu hasil uji lab BBVet Maros untuk memastikan penyebab kemarian ratusan ternak babi itu. Meski dugaan sementara adalah virus demam babi Afrika (African swine fever/ASF),” katanya.

Sementara, laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Manokwari kasus kematian ternak babi di daerah itu mencapai 171 ekor dalam dua pekan terakhir.

“Data terakhir, sebayak 171 ternak babi milik warga kabupaten Manokwari mati. Itu tersebar di wilayah Borobudur kelurahan Padarni Distrik Manokwari Barat, Distrik Manokwari Utara dan Distrik Warmare,” kata Wanto, kepala pelaksana BPBD kabupaten Manokwari.

Wanto menuturkan, kasus kematian ternak babi di daerah itu masih terus dipantau sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium BBVet Maros oleh tim terpadu provinsi Papua Barat.

“Belum diketahui penyebab kematian ratusan ternak babi ini, kami masih berkoordinasi dengan dinas peternakan dan kesehatan hewan provinsi Papua Barat,” katanya.(JP/SOS)

Continue Reading

Adat

Seleksi Jabatan Eselon II Masuk Tahap Akhir, Gubernur: Secepatnya Digelar Pelantikan

Published

on

Gubernur Papua Barat Drs Dominggus Mandacan.

MANOKWARI,JAGATPAPUA.com– Proses seleksi Jabatan Eselon II dilingkungan Pemprov Papua Barat sudah masuk tahap akhir, diharapkan dalam waktu dekat pelantikan dilakukan.

Hal itu dikatakan Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan kepada awak media di kantor Gubernur Provinsi Papua Barat, Kamis ( 22/04/2021 ). Menurut ia, Seleksi lelang jabatan sudah dilakukan dan saat ini masuk tahap akhir, selanjutnya hasil tersebut diserahkan kepada Komisi Aparatur Sipil Negara ( KASN ) untuk segera disetujui.

“Kalau itu sudah kita lakukan maka selanjutnya kita percepat proses pelantikan, mengingat ada beberapa Jabatan Kepala OPD yang masih dijabat oleh plt,”kata Gubernur

Sebab hingga saat ini, OPD terkait yang masih dijabat oleh Plt belum menerima DPA, karena terbentur aturan. Sehingga proses pelantikan dimaksud harus dipercepat setelah KASN menyetujui hasil seleksi Jabatan Eselon II.

“Jadi OPD yang kepala dinasnya masih dijabat plt mereka akan menerima DPA setelah kepala dinas definitivnya  dilantik,”ungkap Gubernur.(JP/SOS)

Continue Reading

Trending

Hati-hati salin tanpa izin kena UU no.28 Tentang Hak Cipta