Connect with us

Ekonomi & Bisnis

Tingkatkan Produksi Padi, Pemprov Pabar Optimalkan Garap 4.372 Ha Lahan Nganggur

Published

on

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Sebagai upaya membangkitkan kembali sektor pertanian di tengah Pandemi Covid-19, pemprov Papua Barat berupaya mengoptimalkan 4.371 Hektar (ha) lahan nganggur, yang selama ini tidak tertanami akibat sejumlah kendala.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Papua Barat, Yopi Fonataba mengatakan hingga saat ini, total luas lahan padi di Papua Barat, yang telah dicetak mencapai 11.545 ha, namun yang intensif selalu tertanami hanya 7.174 ha, akibat para petani terkendala beberapa persoalan.

Untuk itu, kendala-kendala tersebut harus dibenahi oleh pemerintah daerah, baik provinsi barat maupun kabupaten/kota, agar kedepan 100 persen lahan tersebut bisa tertanami.

“Semisal semua lahan ditanami padi dengan rata-rata produksi 5 ton per ha, berarti produksi padi di Papua Barat, satu musim tanam bisa menghasilkan 57.725 ton gaba kering panen dan jika dikonfersi menjadi beras produksi, bersihnya 35.789,5 ton,” jelasnya pada kegiatan kunjungan kerja Gubernur Papua Barat, di Wasegi Indah, Prafi Manokwari, Rabu (17/6/2020).

Kunjungan Gubernur tersebut sekaligus menyerahkan Sertifikat Tanah 860 bidang kepada petani program retribusi Tanah, di lokasi pembibitan kelapa sawit, program peremajaan sawit rakyat oleh Koperasi Produsen Sawit Arfak Sejahtera.

Selain itu, dia menyebut sejumlah kendala yang ditemui sehingga masih ada 4.371 lahan tidak dioptimalkan atau tidak ditanami secara intensif, karena modal usaha dan belum terdapat benih unggul bersertifikat.

“Faktor lain yang jadi penghambat, yakni harga jual beras yang belum memadai, serta kebutuhan air irigasi, karena lahan sudah dicetak tapi belum terjangkau air irigasinya dan obatan-obatan pengendalian hama dan penyakit,” tanfasnya.

Sementara Plh Bupati Manokwari, Edi Budoyo mengatakan, program ketahanan pangan telah dilaksanakan melalui kegiatan intensifikasi, yaitu peningkatan pendayagunaan lahan yang sudah tersedia dan tinggal dikembangkan dalam bentuk pengolahan tanah.

Namun pihaknya berharap bagi stakeholder penyedia benih agar menyediakan benih unggul dengan tetap menyesuaikan dengan kondisi alam dan petani.

“Kita juga harap peralatan dan mesin pertanian yang disediakan harus memadai sehingga tidak terjadi antrian yang berdampak pada mundurnya masa panen,” ucapnya.

Menanggpi hal tersebut, Gubernur Papua Barat, Drs Dominggus Mandacan mengatakan, apabila semua lahan dimaksimalkan, maka Papua Barat tidak perlu lagi mendatangkan pasokan beras dari luar daerah.

Apalagi, kata Gubernur sejak dampak dari Virus Corona membuat daerah di wilayah Jawa tidak lagi menjual hasil pertanian seperti beras kepada daerah lainnya, termasuk Papua dan Papua Barat.

“Untuk mengoptimalkan lahan ini tentu dibutuhkan peran semua pihak, termasuk petani dan masyarakat. Intinya kita harus siap, karena kalau sudah siap kita aman tidak perlu datangkan beras dari luar,” tandas Gubernur.(alb)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adat

Bupati Hermus Keluarkan SE Terkait Virus ASF Yang Diduga Penyebab Kematian Ternak Babi

Published

on

Bupati Manokwari, Hermus Indou SIP,.MH.

MANOKWARI,JAGATPAPUA.com– Bupati Manokwari, Hermus Indou, SIP, MH telah mengeluarkan surat edaran meminta semua pihak untuk waspada terhadap virus demam babi Afrika.

Surat edaran bupati Kabupaten Manokwari nomor : 524.3/324. Tentang peningkatan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit pada ternak babi di Kabupaten itu ditandatangani bupati Manokwari per Rkamis 22 April 2021.

Sehubungan dengan peningkatan kasus penyakit dan kematian ternak babi di wilayah kabupaten Manokwari pada khususnya serta hasil investigasi Balai Besar Veteriner Kabupaten Maros terhadap kematian ternak babi di wilayah kabupaten Manokwari , dengan diagnosa sementara bahwa kematian ternak babi yang terjadi disebabkan oleh virus Afrika Africa twin dengan ini disampaikan informasi dan himbauan sebagai berikut,
1: Penyakit virus African swine fever atau demam babi Afrika adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang menyebabkan kematian yang tinggi pada ternak babi dan masih belum ditemukan vaksin dan obat untuk penanggulangannya. Penularan penyakit ini adalah melalui kontak langsung, serangga, pakaian, peralatan, peternak, kendaraan, dan pakan yang terkontaminasi.

2: Khususnya peternak dan penjual produk daging babi diimbau untuk lebih meningkatkan kewaspadaan akan penyakit ASF dengan penerapan budaya dan biosecurity yang baik menempuh:
A: Menjaga kebersihan kandang ternak dengan pembersihan minimal dua kali sehari, disinfektasi kandang secara berkala, membatasi keluar masuk orang yang tidak berkepentingan pada lingkungan kandang.
B: Pemberian pakan pada ternak sesuai kuantitas dan kualitas.
C: Tidak membiarkan pakan sisa rumah tangga, restoran pelabuhan hotel pada ternak karena dapat merupakan media penularan penyakit.
D: Jika ada dugaan ASF atau ditemukan babi yang sakit atau mati diharapkan segera melapor kepada petugas Dinas Pertanian dan ketahanan Pangan Kabupaten Manokwari atau Penyuluh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat 1 X 24 jam. Segera dikubur dan Dilarang membuang ke sungai laut atau hutan untuk mencegah lebih luas penyakit abses. Tidak menjual ternak dan daging babi yang terindikasi sakit.
F: Pengusaha penjual ternak dan daging babi untuk sementara dilarang memasukkan ternak babi dari luar Kabupaten Manokwari karena kasus penyakit ternak babi telah terjadi pada kabupaten lain di wilayah Provinsi Papua Barat.

3. Dinas Pertanian dan ketahanan pangan kabupaten Manokwari agar segera melaksanakan langkah-langkah antisipatif dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit menular pada ternak babi menerima dan merekap laporan kejadian penyakit dan kematian ternak babi yang terjadi di wilayah kabupaten Manokwari.

4. Dinas lingkungan hidup dan pertahanan Pertanahan Kabupaten Manokwari agar tetap memperhatikan mengantisipasi dampak lingkungan terhadap wabah Penyakit ini.
5. kepala distrik dan kepala Kelurahan Kampung agar terus berpartisipasi dalam melaksanakan sosialisasi pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak babi dan wajib memberi penekanan kepada masyarakat agar tidak membuang bangkai ternak di sembarang tempat melainkan harus menguburkan ke dalam tanah demikian untuk dilaksanakan.(JP/AR)

Continue Reading

Adat

Ratusan Ternak Babi Di Manokwari, Mansel dan Pegaf Mati Diduga Terserang Virus ASF

Published

on

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua Barat, drh Hendrikus Fatem.

MANOKWARI,JAGATPAPUA.com – Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Papua Barat drh Hendrikus Fatem mengatakan, kematian ratusan ternak babi di tiga kabupaten di Provinsi Papua Barat dalam satu bulan berjalan masih diselidiki tim terpadu Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan setempat.

Dugaan sementara ratusan ternak babi di kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan dan Pegunungan Arfak itu mati terserang virus demam babi Afrika (African swine fever/ASF).

“Tim terpadu telah melakukan pengambilan sampel untuk dilakukan pemeriksaan atau diagnosis di Balai Besar Veteliner (BBVet) Maros Sulawesi Selatan,” kata Fatem.

Fatem mengatakan laporan masyarakat atas kematian ternak babi tertinggi di kabupaten Manokwari dalam dua pekan terakhir. Kasus yang sama juga terjadi di kabupaten Manokwari Selatan dan Pegunungan Arfak.

Dia mengatakan tim terpadu yang terdiri dari dinas peternakan dan kesehatan hewan Papua Barat bersama petugas BBVet Maros sedang melakukan investigasi untuk memastikan jenis virus tersebut.

“Pemerintah masih menunggu hasil uji lab BBVet Maros untuk memastikan penyebab kemarian ratusan ternak babi itu. Meski dugaan sementara adalah virus demam babi Afrika (African swine fever/ASF),” katanya.

Sementara, laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Manokwari kasus kematian ternak babi di daerah itu mencapai 171 ekor dalam dua pekan terakhir.

“Data terakhir, sebayak 171 ternak babi milik warga kabupaten Manokwari mati. Itu tersebar di wilayah Borobudur kelurahan Padarni Distrik Manokwari Barat, Distrik Manokwari Utara dan Distrik Warmare,” kata Wanto, kepala pelaksana BPBD kabupaten Manokwari.

Wanto menuturkan, kasus kematian ternak babi di daerah itu masih terus dipantau sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium BBVet Maros oleh tim terpadu provinsi Papua Barat.

“Belum diketahui penyebab kematian ratusan ternak babi ini, kami masih berkoordinasi dengan dinas peternakan dan kesehatan hewan provinsi Papua Barat,” katanya.(JP/SOS)

Continue Reading

Adat

Seleksi Jabatan Eselon II Masuk Tahap Akhir, Gubernur: Secepatnya Digelar Pelantikan

Published

on

Gubernur Papua Barat Drs Dominggus Mandacan.

MANOKWARI,JAGATPAPUA.com– Proses seleksi Jabatan Eselon II dilingkungan Pemprov Papua Barat sudah masuk tahap akhir, diharapkan dalam waktu dekat pelantikan dilakukan.

Hal itu dikatakan Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan kepada awak media di kantor Gubernur Provinsi Papua Barat, Kamis ( 22/04/2021 ). Menurut ia, Seleksi lelang jabatan sudah dilakukan dan saat ini masuk tahap akhir, selanjutnya hasil tersebut diserahkan kepada Komisi Aparatur Sipil Negara ( KASN ) untuk segera disetujui.

“Kalau itu sudah kita lakukan maka selanjutnya kita percepat proses pelantikan, mengingat ada beberapa Jabatan Kepala OPD yang masih dijabat oleh plt,”kata Gubernur

Sebab hingga saat ini, OPD terkait yang masih dijabat oleh Plt belum menerima DPA, karena terbentur aturan. Sehingga proses pelantikan dimaksud harus dipercepat setelah KASN menyetujui hasil seleksi Jabatan Eselon II.

“Jadi OPD yang kepala dinasnya masih dijabat plt mereka akan menerima DPA setelah kepala dinas definitivnya  dilantik,”ungkap Gubernur.(JP/SOS)

Continue Reading

Trending

Hati-hati salin tanpa izin kena UU no.28 Tentang Hak Cipta