5 C
Munich
Kamis, Februari 29, 2024

Pendeta GKPMI Diingatkan Hadirkan “Syalom” di Setiap Lingkungan Pelayanan

Must read

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Seluruh warga Jemaat Gereja Kalvari Pentakosta Missi Indonesia (GKPMI) dan para Hamba Tuhan, selaku Pemimpin Jemaat atau gereja diingatkan agar selalu menghadirkan “Syalom” di setiap lingkungan pelayanan.

Hal ini, harus menjadi komitmen bersama baik Keluarga, gereja maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, sebagai bentuk membangun kebersamaan dan kekeluargaan untuk menciptakan iklim yang damai dan sejuk.

Hal itu, disampaikan Ketua Umum GKPMI Pdt Dr Zadrakh Tuanger M.Th, dalam sambutannya yang dibacakan Koordinator Wilayah GKPMI Manokwari, Pdt Triker Wahilaitwan, pada Ibadah Natal, Selasa (10/12/2019) di gedung Gereja Jemaat Getsemani Manokwari.

“Mencermati situasi dan kondisi di seputar kehidupan kita, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, gereja maupun kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, maka tidak dapat dipungkiri ada sejumlah permasalahan serius yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia,” sebutnya.

Dia mengatakan tindak kekerasan, Terorisme, Radikalisme, Narkotika dan obat-obat terlarang, seks bebas, hoax fitnah dan sebagainya melalui media sosial (Medsos), tentu harus menjadi pergumulan dan perenungan bersama sebagai anak bangsa maupun selaku orang percaya.

“Kondisi ini yang menjadi dasar inspirasi GKPMI pusat, memilih tema Natal, ” Berbahagialah orang yang membawa damai”, diangkat dari Matius 5:9 dan Sub tema, “Dengan Natal Yesus Kristus Tahun 2019, GKPMI turut menciptakan kedamaian dan kesejukan di tengah keluarga gereja dan masyarakat untuk mendukung pembangunan yang berkesinambungan bagi kesejahteraan bangsa,” jelasnya.

Tema tersebut, lanjut dia mengandung makna adanya harapan dan tanggung jawab gereja, “Kedamaian”, yang merupakan dambaan setiap orang percaya yang harus terus diperjuangkan dan menjadi, “Rekonsiliator” atau “pendamai”, bagi setiap orang percaya dan warga GKPMI khususnya yang terus dikerjakan dan diberdayakan.

“Ketika tanggung jawab ini dilakukan, maka kita dilayakan Tuhan untuk menjadi anak-anak Allah,” ucapnya.

Melalui tema dan sub tema tersebut, ia menyampaikan beberapa pesan untuk dijadikan acuan dan pijakan dalam menyambut dan melaksanakan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 mendatang.

Yakni seluruh warga GKPMI dan para hamba Tuhan, agar menghindari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai moralitas nilai-nilai etika pelayanan nilai-nilai kepemimpinan dan nilai-nilai spiritual yang hanya mengakibatkan pelecehan, terhadap pelayanan dan organisasi yang bermuara pada perpecahan di dalam tubuh GKPMI.

Para hamba Tuhan juga dituntut mampu menunjukkan perilaku sebagai agen-agen, “Syalom”, dalam artian benar-benar menjadi pendamai baik dalam lingkungan keluarga gereja dan masyarakat.

“Jangan sebaliknya menjadi pemicu dan pemacu masalah. Saya berharap agar di tahun 2020 nanti oleh pertolongan Roh Kudus GKPMI dapat bebas dari konflik internal,” tukasnya.

“Dalam melaksanakan misi, “Syalom”, tidak menggunakan kekuatan dan upaya-upaya sendiri, tetapi hendaknya selalu melibatkan Yesus sebagai aktornya, karena dialah rekonsiliator sejati kita,” ujarnya.

Selain itu, Natal wujud dari pementasan kasih Allah kepada seluruh umat manusia yang berdosa dengan diberikannya Yesus Kristus sebagai anak tunggal, untuk menjadi tebusan hidup manusia dari kuasa dosa agar diselamatkan dari hukum kekal (Yohanes 3:16).

Olehnya, peristiwa Natal harus direspon sebagai transformasi dan aktualisasi dari rencana Allah dalam membebaskan manusia dari belenggu dosa dan menyelamatkannya dari hukuman kekal.

“Dosa itu bentuk pemberontakan dan kudeta manusia terhadap Allah, yang telah mengakibatkan terjadinya permusuhan antara Allah dengan manusia, sekaligus berimplikasi pada manusia kehilangan kemuliaan Allah,” tegasnya.

“Dosa adalah akar dari semua persoalan hidup manusia yang secara terus-menerus menggerogoti keberadaan manusia. Alkitab berkata sebab upah dosa ialah maut tetapi kasih karunia Allah ialah hidup kekal dalam Kristus Yesus Tuhan kita (Roma 6:23),” sambungnya.

“Konsepsi Rasul Paulus di atas secara teologis menunjuk pada dua implikasi spiritual, yaitu pertama dosa atau pemberontakan akan berakhir dengan kematian kekal atau maut kedua kasih karunia Allah akan membawa manusia pada keselamatan kekal. Ini memberi makna bahwa kematian kekal atau mau dapat dibatalkan jika kasih karunia Allah dapat diterima oleh orang berdosa,” tambahnya.

Dalam konteks inilah, maka dalam ketidakberdayaan manusia, Allah berinisiasi untuk mengakhiri perseteruan atau permusuhan antara manusia dengan Allah melalui jalan perdamaian lewat kematian Yesus diatas bukit Golgota.

Dengan metode rekonsiliasi perdamaian tersebut, Allah memulihkan kembali hubungan antara manusia dengan Allah yang telah terputus. Berangkat dari paradigma dan persepsi ini, dapat disimpulkan peranan sosial memiliki arti penting bagi terwujudnya sebuah rekonsiliasi spiritual menuju pemulihan dan suatu keadaan yang lebih baik.

“Kiranya oleh pertolongan Yesus Kristus sang Rekonsiliator dan roh Kudus sang motivator, GKPMI menjadi agen-agen pendamai baik dalam keluarga, gereja dan masyarakat,” harapnya.(me)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article

Hati-hati salin tanpa izin kena UU no.28 Tentang Hak Cipta