Connect with us

Manokwari

Belum Ada Lokasi Karantina Terpusat, Masyarakat Merasa Tidak Nyaman

Published

on

Mama Erena Dowansiba.

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Kekhawatiran terhadap virus corona, mulai menghantui hampir sebagian masyarakat Manokwari. Warga menjadi ketakutan soal kemungkinan terpapar virus corona tersebut.

Apalagi grafik kasus terkonfirmasi positif Covid-19, terus meningkat, sementara belum ada lokasi karantina terpusat yang disediakan oleh pemda setempat, baik dalam kategori Orang Tanpa Gejala (OTG), Orang Dalam Pemantauan (ODP), dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

“Kecemasan kami warga Manokwari tentu ada, apalagi belum ada lokasi karantina terpusat. Jujur saja, kami merasa tidak nyaman, apalagi keseharian saya berjualan sayuran,” Kata Mama Erena Dowansiba, Sabtu (23/5/2020).

Untuk itu, ia berharap Pemda Manokwari, dapat serius dalam merealisasi tempat karantina terpusat. Sehingga semua orang yang masuk dalam kategori Covid-19 dapat tertangani secara baik, dan virus ini tidak menyebar.(me)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Manokwari

Rosalina : Masyarakat Harus Tetap Lakukan Protokol Kesehatan Cegah Covid-19

Published

on

Tokoh Politik Perempuan Papua, dr. Rosalina Irene Rumaseuw.

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Grafik Virus Covid-19 secara Nasional terus meningkat, data per 26 Mei 2020 telah mencapai angka 23.165 orang yang terpapar Virus Corona dan Papua Barat termasuk daerah penyumbang naiknya kurva Covid-19 tersebut.

Salah satu Tokoh Politik Perempuan Papua, dr. Rosalina Irene Rumaseuw, M.Kes, mengatakan salah satu penyebab terus naiknya kurva Covid-19, akibat kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan.

Diantaranya, menggunakan masker saat bepergian, rutin mencuci tangan, menjaga jarak dan juga tetap berada di rumah jika tidak ada kepentingan yang urgen. Karena itu untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Semua ini dilakukan agar masyarakat yang sehat tetap sehat dan sakit bisa sembuh. Covid ini bukan tipu-tipu, penyebarannya sudah mendunia, dan pembawaannya buka dari hewan, seperti nyamuk yang dipukul langsung mati, tapi kalau manusia kan tidak mungkin setelah terinfeksi kita bunuh,” ujarnya.

Selain itu, dia mengatakan himbauan yang diberikan oleh pemerintah sudah jelas, baik melalui media cetak, elektronik maupun online dan radio, bahkan dari lembaga keagamaan, dan para tokoh masyarakat. Hanya saja pemberlakuan tersebut kembali kepada kesadaran masyarakat itu sendiri.

“Masyarakat harus tahu kekebalan tubuh setiap orang tidak sama. Bersyukur jika masih ada masyarakat yang belum terkena penyakit ini. Tetapi jangan menganggap remeh, patuhi anjuran pemerintah karena mereka adalah wakil Allah didunia,” ucapnya.

“Kalau pemerintah sudah imbau, maka mau tidak mau, suka tidak suka harus diikuti, karena itu untuk kebaikan bersama, dan apabila selama pemberlakuan protokol ada hal-hal yang dianggap tidak berkenan, atau mungkin ada saran bisa disampaikan saja ke pemerintah melalui tokoh adat ataupun agama terdekat,” tukasnya.

Dilain sisi, dia juga menilai salah satu yang membuat masyarakat acuh tidak acuh dengan situasi saat ini karena bantuan sembako dari pemerintah belum merata.

“Kita lihat di Itali, begitu diberlakukan lockdown semua masyarakat akar rumput diberikan jaminan ekonominya dan itu dilakukan pemerintah secara terbuka. Namun ini tidak dilakukan oleh Pemda di kabupaten/kota atau provinsi Papua Barar. Padahal itu penting dan tentu pemerintah juga harus berbenah diri,” ucapnya.

Memang diakui, penyakit ini muncul mendadak dan pemerintah sendiri tidak punya persiapan anggaran sigap seperti di Singapore yang mempunyai dana simpan untuk menghadapi bencana non alam seperti Covid-19.

Sementara di Indonesia untuk alokasi anggaran sesuai instruksi Presiden, sehingga tinggal bagaimana pemerintah daerah menjabarkannya agar masyarakat juga tidak serta merta menyalahkan pemerintah.

Dia mencontohkan ketegasan pemberlakuan aturan penanganan Covid-19 di Kabupaten Biak Numfor, patut dicontohi Pemkab Manokwari dan Papua Barat secara umum. Aturan yang dikeluarkan oleh bupati setempat disesuaikan dengan watak masyarakatnya dan penerapan protokol kesehatan Covid-19 disertai pengawasan langsung oleh TNI dan Polri melalui Satgas Penanganan Covid-19. Aktivitas masyarakat diawasi secara ketat dan dibatasi sesuai waktu yang ditentukan.

“Ketegasan Bupati Biak Numfor, dalam penanganan Covid-19 patut dicontohi. Bupati memberikan batas waktu pasar hingga jam 14.00 Wit, yang lewat waktu akan disanksi. Dan hasil kebun mama Papua diborong oleh Pemda melalui pemerintah kampung di mana masyarakat itu tinggal, baik hasil kebun juga hasil melaut,” jelasnya.

“Saya pribadi sedih kalau Papua menganggap remeh, serta jangan samakan kita dengan masyarakat non Papua. Mereka banyak sementara SDM kita hanya sedikit. Ini yang harus kita jaga mencegah penyebaran Covid-19 dengan mematuhi anjuran pemerintah, karena itu sama saja kita menjaga kehidupan para generasi penerus kedepannya,” ujarnya.

Dia menambahkan cara penyebaran Virus ini tidak seperti jenis penyakit lainnya, Corona akan memyebar dengan sangat cepat ketika adanya kerumunan warga, maka harus menjaga jarak. Karena ketika sudah terinfeksi jelas keluarga kita juga akan kena, dan masyarakat juga tidak boleh menstigma negatif, karena ini bukan penyakit memalukan, tetapi mari saling mendukung sehingga bisa menghambat penyebaran virus tersebut.

“Medis kita sedikit, sangat terbatas, tidak seimbang dengan populasi pasien jika terjadi outbreak, karena penanganan Covid-19 ada SOPnya tidak sama dengan bencana alam. Ini yang harus dipikirkan pemerintah,” tutupnya.(me)

Continue Reading

Manokwari

10 Tahun Tinggalkan Manokwari, Gomez : Saya Rindu Manokwari

Published

on

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Banyak pemain asing yang datang dan pergi dari Perseman Manokwari, saat tim kebanggaan masyarakat Manokwari itu berkompetisi di Liga Indonesia.

Namun dari sekian nama pemain asing, hanya ada satu nama Gomez Alberto Carlos, yang menjadi pemain yang selalu dikenang oleh pendukung Perseman dan masyarakat Manokwari.

Pasalnya, tidak hanya memiliki skill yang baik didalam lapangan, Gomez juga dikenal karena memiliki gaya rambut yang unik sehingga ditiru banyak orang.

Meskipun sudah lebih dari 10 tahun meninggalkan Perseman, Gomez masih mengenang pengalamannya ketika berseragam kuning hitam milik Perseman. Melalui akun media sosial miliknya, pria asal Argentina itu kerap memposting kenangannya di Perseman.

Kepada media ini Gomez mengaku dia memiliki banyak memori indah saat bermain untuk Perseman.

“Saya rindu sekali di Manokwari, karena sejak saya datang mereka cinta sama saya sehingga Perseman punya tempat di hati saya,” ujarnya melalui pesan singkat Rabu (27/5/2020).

Pemain yang akrab dengan nomor 31 itu sedih mengetahui Perseman tidak lagi berkompetisi di Liga Indonesia. Padahal dia sering mendapatkan pesan melalui media sosial bahwa masyarakat merindukan adanya tim-tim besar datang ke Manokwari bertanding dengan Perseman.

“Saya tahu situasi tim Perseman dan saya sedih karena Perseman tidak ikut kompetisi dari PSSI, tapi saya juga tahu semua orang supporter dari perseman mau jalan lagi dan kembali ke liga 1. Sehingga setiap minggu ada tim besar di kota Manokwari seperti dulu bertanding,” ucapnya.

Gomez yang sudah menjadi pelatih di Liga 2 Argentina itu, mengaku sewaktu-waktu siap jika mendapatkan kepercayaan kembali ke Perseman untuk menjadi pelatih atau direktur teknik. Dia ingin menyalurkan ilmu dan pengalamannya sebagai pesepakbola serta tentang kepelatihan.

“Saya lihat antusiasme dari semua orang dari Manokwari, karena ketika saya masukan foto-foto di dalam facebook atau instagram ada banyak orang dari Manokwari menyukai postingan saya dan minta Perseman main lagi dan saya juga kembali,” tutup dia.

Gomez sendiri bermain di Perseman selama 2 tahun dan hengkang tahun 2007 lalu. Selama bermain di Perseman, Gomez menjadi salah satu pemain yang menjadi mesin gol bersama sejumlah pemain lokal lainnya.

Selain Perseman, dia pernah bermain untuk Persigo Gorontalo, Persegi Gianyar, Mojokerto Putra dan Arema Malang.(tik)

Continue Reading

Manokwari

Lagu Tanah Papua Ciptaan Yance Rumbino Akan Didaftarkan Ke Kemenkumham

Published

on

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Pemprov Papua Barat, akan mendaftarkan lagu, “Tanah Papua”, yang diciptakan Yance Rumbino pada Direktorat Kekayaan Intelektual Kemenkumham di Jakarta.

Untuk itu, Pemprov Papua Barat, memberikan kesempatan kepada masyarakat yang mengklaim sebagai pencipta lagu, “Tanah Papua”, untuk mengajukan klaim atau sanggahan lagu tersebut.

Adapun waktu penyampaian klaim, keberatan atau sanggahan adalah selama I (satu) bulan sejak pengumuman ini disampaikan atau tertanggal 26 Mei 2020 hingga 26 Juni 2020.

Selain itu, bagi pihak yang akan mengajukan keberatan diwajibkan menyertakan bukti-hukti yang jelas dan otentik yang selanjutnya akan dilakukan verifikasi sesuai ketentuan pemerintah.

Pengumuman ini melaui surat bernomor 431/672/Setda. PB/2020, yang ditandatangani Setda Papua Barat, Drs. Nataniel Mandacan.(me)

Continue Reading

Trending

Hati-hati salin tanpa izin kena UU no.28 Tentang Hak Cipta